Sekilas mengenai U.F.O. di Indonesia

UFO yang sering kita kenal mungkin identik dengan “pesawat/spacecraft milik makhluk asing luar Bumi (E.T.).” Sebagian orang akan berfikir demikian. Tapi apa sebenarnya UFO itu?

UFO (Unidentified Flying Object) atau dalam istilah yang diperkenalkan oleh ketua LAPAN, R.J. Salatun adalah BETA (Benda Terbang Aneh), adalah suatu fenomena dimana saksi tidak bisa mengidentifikasi benda terbang yang dilihatnya. Istilah lain yang juga sempat diperkenalkan adalah BETEBEDI (Benda Terbang Belum Dikenal) yang dikemukakan oleh seorang akuntan publik dari Bandung yang bernama C.M. Tanadi yang pada tahun 80-an banyak menerbitkan buku terjemahan tentang fenomena ini dan majalah yang bernama Betebedi.
(Wikipedia, edited)

Dalam masalah UFO, negara-negara di Eropa dan Amerika sangat antusias mengkaji data mengenai UFO yang terlihat akhir-akhir ini. Di Indonesia, dikenal suatu komunitas induk dari perkumpulan-perkumpulan pengamat UFO, yaitu BETA-UFO Indonesia (atau klik ini), Berdiri sejak 26 Oktober 1997, aktif mendata dan mempelajari fenomena UFO melalui investigasi lapangan, wawancara saksi, dan studi literatur. Membahas fenomena UFO melalui diskusi online, twitter, temu muka, menjadi narasumber media, serta partisipasi dalam pameran. BETA-UFO mempublikasikan hasil penelitiannya melalui media website, dan laporan tahunan. (beta-ufo.org)

Di Indonesia, ratusan laporan penampakan benda terbang tak dikenal, masuk tiap tahunnya. Mungkin lebih banyak lagi penampakan yang tidak masuk laporan, bisa dikarenakan saksi takut akan dibilang ngeyel, gila, atau bahkan kurangnya sosialisasi mengenai U.F.O.

Foto UFO pertama di atas Indonesia dibuat oleh wisatawan Jepang, Ryo Terumoto, pada 17 Agustus 1973. Sekitar pukul 14.00 siang, dari mobil ia memotret Gunung Agung di Bali. Setelah fotonya dicetak, ia terkejut melihat adanya sebuah benda berbentuk cakram yang melayang di depan gunung tersebut. Ketika memotret ia tidak memperhatikannya. Fotonya kemudian dimuat di majalah Hito to Nippon (Orang dan Jepang) terbitan Maret 1974 dengan judul “Piring Terbang di Atas Pulau Bali?” (Angkasa, Desember 1990)

UFO Bali, 17 Agustus 1973
UFO Bali, 17 Agustus 1973

Foto penampakan U.F.O. yang terkenal lainnya adalah fito yang diambil oleh Ir Tony Hartono Rusman di lepas pantai Cimalaya pada 22 September 1975.

Waktu itu sekitar pukul 15.00, Ir. Tony Hartono Rusman sedang melepas lelah, sehabis makan siang di Quarters Platform pada lantai III kompleks menara pengeboran minyak lepas pantai di ladang minyak Arjuna, 83 km dari pantai Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Tiba-tiba perhatian Tony tertarik pada titik hitam di atas cakrawala yang menuju ke arah ladang minyak dengan bentuk lonjong dan berwarna merah tua. Pada jarak sekitar 10 km, benda itu membelok dengan tajam dan menjauh lagi, sehingga membuat lintasan seperti bumerang. Di kejauhan, benda itu naik vertikal ke atas dan hilang dari pemandangan. Tony waktu itu sedang menyandang sebuah kamera Olympus, dan dengan cepat ia menyetel dan membidikkannya ke arah benda yang muncul tidak lebih dari satu menit itu. Semula Tony tidak sadar bahwa benda yang diabadikannya itu adalah sebuah UFO. Setelah film itu dicuci, tampaklah UFO di atas tanker minyak Arco Arjuna, yang kini sudah menjadi terkenal di seluruh dunia.

UFO Cimalaya 1975
UFO Cimalaya 1975

(http://betaufo.org/sightings/cilamaya1975.html)

BETA juga sempat muncul dan cukup  mengganggu saat kejadian Dwikora tahun 1964, seperti yang dikutip oleh J. Salatun dalam bukunya, “UFO, Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini.”

“Sewaktu masih berkecamuknya Dwikora, Surabaya sebagai salah satu basis kekuatan pertahanan
berada dalam keadaan siap siaga, mendapat kunjungan benda-benda terbang tak dikenal setiap malam
selama seminggu penuh dari tanggal 18 sampai dengan 24 September 1964. Tamu-tamu yang tidak
diundang itu tampak secara serentak baik di layar radar maupun dengan mata telanjang, sehingga
tergolong dalam penyaksian RV (Radar Visual Sightings).
Benda-benda tak dikenal itu mulai beraksi sesudah matahari terbenam dan menghilang menjelang
fajar menyingsing. Benda-benda itu ada yang bergerak seperti pesawat terbang atau helikopter biasa,
tetapi ada pula yang melakukan olah gerakan yang serba mendadak. Kegiatan benda-benda terbang yang
aneh itu dipusatkan di dalam daerah segitiga Surabaya-Malang-Bangkalan. Keadaan cuaca di daerah
kejadian selama minggu itu adalah cerah.
Benda-benda aneh itu menurut deskripsi para saksi mata adalah benda hitam yang kadang-kadang
memperlihatkan ekor api yang lebih panjang dari api gas buang pesawat pancar gas yang sedang
menyalakan “afterburner”nya. Meskipun bentuk badannya tersembunyi dikegelapan malam, ia membawa
lampu yang sangat terang di bagian bawahnya. Seorang saksi kebetulan melihat bentuk badannya yang
memantulkan cahaya dari bawah dan menggambarkannya seperti sebuah mangga oleh karena berbentuk
elipsoida yang berwarna hijau kebiru-biruan. Saksi mata lain menggambarkan cahaya UFO itu seperti
lampu belakang mobil. Seorang penerbang Angkatan Udara yang pada suatu malam kebetulan berada di
dekat kota Porong melukiskannya sebagai bulat seperti rambu lalu lintas akan tetapi menyala merah
padam dan tampak melayang ke arah Surabaya tanpa berbunyi sama sekali. Benda-benda itu kadang-
kadang memancarkan bunyi mendengung seperti sebuah gasing yang sama sekali berbeda dengan bunyi
pesawat pancar gas maupun pesawat piston.
Ciri khas dari kasus UFO Dwikora Surabaya ialah bahwa benda-benda terbang tak dikenal itu
disambut dengan tembakan-tembakan gencar dari meriam-meriam artileri pertahanan udara kita. Di
dalam sejarah UFO sambutan dengan tembakan meriam penangkis serangan udara lainnya hanyalah
terjadi di Kepulauan Kurillen yang diduduki oleh Uni Sovyet pada awal tahun 60-an. UFO itu ternyata tidak
mempan ditembak dengan meriam, oleh karena tidak ada sebuah pun yang berhasil ditembak jatuh. Dari
pengamatan dengan radar ternyata, apabila tembakan kita mengenai sasarannya, mereka segera
mengubah ketinggiannya. Mereka itu terbang tidak tinggi, hanya sekitar 1200 m saja. Dengan gencarnya
tembakan artileri sasaran udara di atas daerah yang padat penduduknya, tidak dapat dihindarkan
jatuhnya korban. Beberapa orang yang sedang duduk di luar rumah mereka di daerah Sidoarjo terkena
pecahan peluru meriam. Mungkin mereka sedang menikmati kesejukan hawa malam sehingga kurang
memperhatikan adanya bahaya udara.
Benda-benda terbang tak dikenal itu juga pernah tampak mendarat pada malam hari di sebelah
selatan Surabaya. Keesokan harinya seorang penerbang Angkatan Laut mendatangi tempat tersebut
dengan helikopter, akan tetapi tidak menemukan bekas-bekasnya. Stasiun radar di Ngliyep, Malang,
kurang lebih 120 km sebelah selatan Surabaya, menangkap sasaran-sasaran yang berputar-putar di atas
pantai dan kadang-kadang ada yang berhenti. Di daerah itu pernah tersiar berita tentang pendaratan
sebuah benda bulat di tengah-tengah kebun jagung. Menurut saksi mata seorang petani yang menjaga
kebun jagung itu dari benda tadi keluar 2 orang asing yang mengenakan pakaian berwarna keperak-
perakan yang mengkilau. Mereka berambut pirang dan bertanya kepada petani itu,”Ini jagung?” Laporan
petani itu hanya dijadikan bahan tertawaan saja. (Bagi mereka yang memppelajari masalah UFO, kejadian
itu mirip dengan kasus di Amerika Serikat yang terjadi dalam tahun 60-an juga. Dilaporkan adanya
makhluk UFO yang berambut pirang dan yang berbicara dengan aksen bahasa Jerman).
Pandangan alat negara tentang peristiwa Surabaya tercermin di dalam telaahan staf Komando
Pertahanan Udara Nasional berjudul “Penerbangan-penerbangan tidak dikenal di Sektor II (Surabaya)”
tertanggal 29 September 1964 yang menyimpulkan, bahwa sasaran tidak dikenal sebagai yang telah
dilaporkan memang ada, bahwa sasaran itu terdiri dari pesawat terbang biasa dan pesawat tanpa awak,
23
bahwa kegiatan sasaran adalah kegiatan lawan, dan bahwa tujuannya adalah untuk perang urat saraf di
samping secara tidak langsung mempengaruhi roda perekonomian.
Mengenai pengendalian secara elektronis kemungkinan terbesar dilakukan dari daratan, dari lautan
mempunyai kemungkinan pula, sedang pengendalian dari udara secara teknis dapat diabaikan!.
Pada intisarinya mereka mengira UFO itu adalah senjata rahasia Angkatan Laut Inggris oleh karena
pada waktu itu memang kapal induk Inggris “Victorious” dengan beberapa kapal perang lain sedang
berada kurang lebih di sebelah selatan Kendari dalam pelayarannya kembali ke Singapura setelah
memasuki Samudra India lewat Selat Sunda.
Diterobosnya pertahanan udara Surabaya oleh benda-benda terbang yang tak dikenal serta ekses-
ekses yang timbul dari meriam-meriam penangkis serangan udara dengan sendirinya menimbulkan
keresahan sosial. Maka dari itu pada tanggal 8 Oktober 1964 Pejabat Presiden Dr.J.Leimana merasa perlu
untuk mengeluarkan imbauan agar masyarakat ramai tetap tenang dan tidak menimbulkan suasana yang
keruh serta dilarang untuk membuat desas-desus dan tafsiran-tafsiran.
Sebelum pengumuman itu penulis ini di dalam jabatannya sebagai Penasihat Ilmiah
Menteri/Panglima Angkatan Udara dimintai pendapatnya tentang kejadian di Surabaya oleh WAKAS KOTI
Laksamana Muda Udara Sri Mulyono Herlambang. Saya kemukakan bahwa peristiwa itu sama dengan
kejadian yang menimpa ibu kota Amerika Serikat Washington D.C. pada tahun 1952. Perbedaannya ialah
bahwa ibu kota tadi tidak dalam suasana konfrontasi dan yang dikerahkan pesawat-pesawat pemburu
segala cuaca Lockheed F-94 “Starfire”. Kesulitan yang dihadapi alat negara kita pada waktu itu ialah
apabila sasaran-sasaran yang tak dikenal itu secara resmi diakui sebagai UFO, maka hal itu dapat
menimbulkan kerawanan berupa mengendornya kesiap-siagaan dan terbukanya kesempatan bagi pihak
lawan untuk menyalahgunakan kondisi itu.”

Ada beberapa tempat yang menjadi jalur atau tempat kemunculan (pattern) terbanyak dari penampakan UFO. Menurut Majalah FHM edisi Maret 2009, beberapa tempat itu diantaranya ialah:

  • Dago, Bandung. Sangat dimungkinkan lokasi ini dulunya adalah danau kurva.
  • Cirebon, UFO sering terlihat di kawasan bibir pantai.
  • Gunung Galunggung.
  • Gunung Salak, Bogor.
  • Tuban, Jawa Timur.
  • Jakarta. Jalurnya adalah Tanah Abang hingga Kelapa Gading. Best view siang-sore.
  • Depok, sempat menjadi kota dengan frekuensi penampakan terbesar di dunia.
  • Selat Malaka. Saking seringnya, lokasi ini disebut ‘rumah UFO di Indonesia.’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trying to Report, Research, and Release.

%d blogger menyukai ini: